Wawancara
Mentan DR. H. Anton Apriyantono, M.Sc.
Ronald Tanamas - detikfinance
Anton Apriyantono (Foto: Ronald
Tanamas-detikcom)
Jakarta
-
Tempe
dan tahu, yang dikenal sebagai makanan
murah meriah tinggi
gizi, sempat langka dalam beberapa lalu. Penyebabnya harga kedelai, bahan
baku
pembuat
tempe
, melambung
tajam hingga lebih dari 100%. Para produsen
tempe
dan tahu
pun lantas mendemo Istana Presiden.
Demo itu kemudian membuat pemerintah memutuskan berbagai kebijakan, salah
satunya adalah pembebasan bea masuk kedelai menjadi 0 persen.
Banyak kalangan mengkritik keputusan tersebut kurang tepat. Dikhawatirkan
pembebasan bea masuk itu semakin meningkatkan ketergantungan
Indonesia
untuk
impor kedelai dari Amerika Serikat (AS) yang merupakan produsen kedelai
terbesar.
Sebenarnya apa yang salah dengan pertanian kita di balik krisis kedelai ini?
Mengapa sebagai bangsa yang sering diolok-olok sebagai bangsa ‘
tempe
‘ justru
kita mengimpor kedelai?
Menteri Pertanian Anton Apriyantono menjawab semua pertanyaan
tersebut
dengan tenang seputar kelangkaan dari kedelai akhir-akhir ini. Pria
berkacamata asli Serang ini juga membantah kalau
Indonesia
saat ini sedang
mengalami krisis pangan.
Berikut wawancara detikcom dengan Dr. H. Anton
Apriyantono, M.Sc. di
kantornya, Departemen Pertanian,
Jakarta
:
Bagaimana bapak melihat kasus kedelai. Mengapa harganya melonjak tinggi?
Sekarang lihat dulu situasi tarifnya. Seperti apa yang berkembang, banyak
yang tidak paham. Untuk memproduksi hasil-hasil pertanian, para petani itu
berhitung. Sehingga kita tidak bisa dalam satu waktu meningkatkan semuanya.
Sekarang saya mau tanya negara mana yang bisa membuat swasembada pangan 100
% seluruh sektor pertanian? Tidak ada. Ambil contoh kedelai. Apa jawaban
kita kalau
Thailand
,
impornya lebih besar dari negara kita? Menurut data
FAO, kedelai yang dihasilkan sebesar 1.3 juta ton per tahun. Sementara
jumlah penduduk
Thailand
cuma 60 juta. Dia boleh surplus padi, tapi di sisi
kedelai lebih parah dari
Indonesia
.
Kenapa
Indonesia
kedelainya turun? Karena kelapa sawitnya naik.
Indonesia
merupakan produsen sawit terbesar di dunia.
Indonesia
juga mampu
meningkatkan produksi jagung, beras di pasar dunia.
Jika ada yang menanyakan kapan kita swasembada? Saya katakan beras kita
sudah swasembada tergantung kondisinya seperti apa. Makanya telah disepakati
oleh FAO, swasembada itu 90% kecukupan dari dalam negeri. Tetapi
untuk
Indonesia
,
kita punya standar sendiri. Untuk beras dan jagung sudah 95 %,
kedelai 90 %.
Mengapa untuk kedelai dibuat lebih rendah?
Karena kedelai ini secara alami produktivitasnya lebih rendah di negara
tropis. Saya tantang seluruh dunia, cari siapa yang memproduksi kedelai
terbesar. Adakah negara beriklim tropis menjadi produksi kedelai terbesar?
Saya yakin tidak ada yang berani kasih jawaban.
Thailand
yang dibanggakan
cuma menghasilkan 1.3 juta ton.
Seperti apa prioritas pertanian yang ditetapkan pemerintah saat ini?
Beras, jagung, gula, kedelai, daging sapi. Sekarang beras sudah cukup bagus.
Sudah ada kenaikan 4.8 % dan belum pernah terjadi selama 15 tahun terakhir.
Jagung 14.4 % belum pernah terjadi juga. Jagung itu impornya lebih kecil
selama 2007 hanya sekitar 600 ribu ton di bawah 5 %. Jadi kita sudah
swasembada beras, jagung, kemudian gula, daging sapi juga sudah meningkat.
Tapi kedelai turun. Kenapa bisa terjadi? Karena petani lebih memilih lahan
tanaman yang menguntungkan seperti sawit, kakao lebih bagus. Siapa yang mau
tanam kedelai?
Ada
beberapa
hambatan di dalam tanaman kedelai seperti dari sisi budi
dayanya. Pertama rentan terhadap penyakit, kedua rentan juga terhadap curah
hujan. Sehingga kedelai itu ditanam di akhir musim penghujan. Jadi tidak
bisa seperti padi yang ditanam sepanjang tahun kalau airnya ada.
Pada tahun 1992 saat dipegang oleh Bulog kenapa bisa swasembada untuk sektor
kedelai?
Itu end all cost. Sekarang apakah kita mau end all cost untuk produksi
kedelai. Semua bisa di-swasembada
kan
,
tapi kita fokus dulu pada beras,
jagung, gula dan daging sapi. Sekarang baru kita mulai ke kedelai. Setelah
harga membaik seperti ini kita yakin bisa swasembada kedelai pada tahun
2011.
continued…